Kamis, 28 Februari 2008

Indonesia Bisa “Menyelamatkan” Dunia


Hutan Indonesia Bisa Turunkan Suhu Bumi
Indonesia berpotensi menyelamatkan Produk Domestik Bruto (PDB) dunia sebesar US$ 940 miliar sampai US$ 1.890 miliar

[NUSA DUA] Indonesia berpotensi mengurangi suhu bumi secara global sebesar rata-rata 0,4 derajat celsius jika berhasil melakukan reforestasi (penghutanan kembali, Red) dalam jangka waktu 100 tahun ke depan.
Ahli Meteorologi dan Perubahan Iklim Institut Teknologi Bandung (ITB), Armi Susandi, di sela-sela Konferensi PBB untuk Perubahan Iklim, di Nusa Dua, Bali, Selasa (11/12), mengatakan dengan asumsi sampai 2110 Indonesia berhasil melakukan reforestasi seluas 75,95 juta hektare, volume karbon yang berhasil diserap oleh hutan di Tanah Air sejumlah 58,1 giga ton dari total emisi karbon saat itu yang diperkirakan mencapai 156,86 giga ton.
Selain berdampak pada penurunan suhu bumi secara global, model reforestasi juga diyakini bisa mengurangi suhu udara di wilayah Indonesia sebesar rata-rata 4,26 derajat celsius. "Artinya dari penyerapan sebesar itu, Indonesia telah berkontribusi sebesar 37 persen dalam pengurangan emisi global," ujar Armi.
Penelitian ini, menurut Armi, merupakan suatu terobosan bagus saat semua penelitian yang selama ini dikerjakan menunjukkan terjadinya peningkatan suhu bumi dari tahun 1900-2100 sebesar 6 derajat celsius. Namun jika reforestasi oleh Indonesia dilakukan sesuai dengan skenario yang ada, perubahan suhu udara global hanya mencapai rata-rata 5,6 derajat celsius.
Jika dikonversikan dengan biaya, program reforestasi Indonesia berpotensi menyelamatkan Produk Domestik Bruto (PDB) dunia sebesar US$ 940 miliar sampai US$ 1.890 miliar. Menurut Armi, penelitian yang melahirkan permodelan iklim tersebut didasarkan atas beberapa asumsi, seperti tidak terjadinya perubahan tata guna lahan di dalam dan luar negeri.
Penting
Sementara itu, Juru Bicara Ikatan Alumni ITB DKI Jakarta, Aulia Prima Kurniawan menyatakan hutan Indonesia memegang peranan sangat penting dalam siklus karbon dunia. Hutan mampu menyimpan karbon dalam jumlah besar dalam berbagai vegetasi dan tanah. Pertukaran karbon dengan atmosfer, kata Aulia, terjadi melalui proses fotosintesis dan respirasi. Tetapi hutan pun dapat menjadi sumber karbon bagi atmosfer ketika hutan rusak, baik karena ulah manusia, seperti prosedur panen yang salah, penebangan liar dan konversi hutan dengan cara pembersihan dan pembakaran tanaman hutan, maupun kejadian alam, seperti kebakaran hutan.
Saat ini Indonesia merupakan negara kedua dengan jumlah hutan tropis terluas di dunia, setelah Brasil. Jumlah luas areal hutan di Indonesia pada tahun 2005 mencapai 93,92 juta hektare.
Jika dibandingkan dengan luasan hutan tahun 1985 maka terjadi penurunan luasan hutan sebesar 25,78 juta hektare, dengan laju penurunan sebesar rata-rata 1,37 persen per tahun pada periode 1985 sampai 1997 dan 3,22 persen per tahun pada periode 1997 sampai 2005.
"Berdasarkan penelitian laju kehilangan hutan di Indonesia mencapai 17 persen dari tahun 1985 sampai 1997 atau setara dengan 1,64 juta hektare per tahun," tuturnya. [E-7]

http://www.suarapembaruan.com/News/2007/12/12/Lingkung/ling01.htm

Tidak ada komentar: